Salah satu fokus utama dalam kampanye ini adalah mengenai fenomena menyalin dari ChatGPT yang mulai marak di lingkungan sekolah. Para guru di Kendari ini secara aktif membedah mengapa tindakan melakukan copy-paste secara mentah tanpa adanya proses kurasi dan penyuntingan dapat berdampak buruk. Secara kognitif, kebiasaan ini dapat mematikan kemampuan analisis dan sintesis otak siswa. Jika otak tidak pernah dilatih untuk mengolah informasi, menyusun kalimat, dan membangun argumen secara mandiri, maka otot-otot intelektual siswa akan melemah. Hal inilah yang mendasari kekhawatiran sekolah bahwa penggunaan AI yang serampangan secara perlahan akan membahayakan otak dalam hal kapasitas berpikir kritis.
Dalam setiap sesi literasi digital, siswa diajarkan cara menggunakan AI sebagai teman diskusi atau sumber referensi awal saja. Sekolah menekankan bahwa hasil yang diberikan oleh AI tidak selalu akurat dan sering kali tidak memiliki nuansa atau rasa bahasa yang sesuai dengan konteks lokal. Dengan melakukan tanpa edit, siswa sebenarnya sedang mempertaruhkan kredibilitas akademis mereka sendiri. Proses menyunting, memverifikasi data, dan menambahkan perspektif pribadi adalah bagian paling penting dari sebuah proses belajar. Melalui kontrol yang ketat dan pemberian tugas yang bersifat analisis personal, SMPN 1 Kendari berupaya agar siswa tetap memiliki kemandirian berpikir meskipun dikelilingi oleh teknologi yang serba instan.
Selain masalah kemampuan berpikir, aspek moral juga menjadi bahasan utama dalam kurikulum menyalin dari ChatGPT di sekolah ini. Siswa diajak berdiskusi tentang kejujuran dan hak kekayaan intelektual. Mengakui karya mesin sebagai karya pribadi adalah bentuk plagiarisme modern yang harus dihindari. Sekolah ingin menanamkan nilai bahwa nilai rapor yang tinggi tidak ada artinya jika didapatkan dari hasil manipulasi teknologi. Karakter jujur dan tanggung jawab jauh lebih berharga daripada sekadar jawaban yang sempurna dari sebuah bot. Dengan pemahaman ini, siswa diharapkan memiliki benteng moral yang kuat untuk tidak menyalahgunakan kemajuan teknologi demi kepentingan yang semu.
Dampak dari edukasi ini mulai terasa, di mana siswa kini lebih kritis dalam menggunakan platform digital. Mereka mulai memahami bahwa untuk menjadi pintar, tidak ada jalan pintas yang bisa menggantikan ketekunan belajar. Upaya yang dilakukan oleh sekolah di Sulawesi Tenggara ini menjadi pengingat bagi dunia pendidikan nasional bahwa kita harus selalu satu langkah lebih maju daripada teknologi. Menjaga otak agar tetap tajam melalui latihan berpikir yang konsisten adalah kewajiban setiap pelajar. Dengan pengawasan dan bimbingan yang tepat, teknologi AI justru dapat menjadi katalisator bagi kecerdasan siswa, asalkan mereka tetap memegang kendali penuh atas proses kreatif dan intelektual yang mereka lakukan.