Pendidikan bukan hanya soal transfer kecerdasan intelektual, tetapi juga soal menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional dan fisik siswa secara sehat. Di Sulawesi Tenggara, SMPN 1 Kendari telah menetapkan standar baru dalam pengelolaan institusi pendidikan dengan mengusung konsep Sekolah Ramah Anak. Pada tahun 2026 ini, konsep tersebut bukan lagi sekadar slogan di gerbang sekolah, melainkan sudah menyatu dalam setiap napas kebijakan, kurikulum, dan interaksi sosial yang terjadi di lingkungan sekolah, menjadikannya sebuah tempat di mana setiap anak merasa dihargai, dilindungi, dan didengarkan aspirasinya.
Visi besar ini didorong oleh keinginan sekolah untuk menjadi lembaga yang memiliki visi unggul tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kesejahteraan siswa. Sekolah ramah anak didefinisikan sebagai institusi yang mampu menjamin, memenuhi, dan menghargai hak-hak anak, serta memberikan perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya. Di Kendari, hal ini diwujudkan melalui penataan fisik sekolah yang aman dan nyaman, hingga penciptaan suasana batin yang kondusif bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi tanpa rasa takut akan perundungan atau tekanan yang berlebihan.
Salah satu indikator keberhasilan program di SMPN 1 ini adalah partisipasi aktif siswa dalam setiap proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan. Siswa tidak lagi dipandang sebagai objek pasif, melainkan subjek yang memiliki hak untuk bersuara. Melalui forum anak sekolah, mereka diberikan ruang untuk memberikan saran mengenai fasilitas apa yang perlu diperbaiki atau metode belajar seperti apa yang menurut mereka lebih menyenangkan. Pendekatan ini secara otomatis meningkatkan rasa memiliki (sense of belonging) siswa terhadap sekolah mereka, yang pada gilirannya berdampak positif pada semangat belajar dan prestasi mereka.
Guru-guru di sekolah ini telah melalui pelatihan khusus mengenai disiplin positif. Berbeda dengan sistem hukuman konvensional yang seringkali meninggalkan luka psikis, disiplin positif lebih menekankan pada pemahaman akan konsekuensi dan pembinaan karakter. Jika terjadi pelanggaran, pendekatan yang dilakukan adalah dialog yang membangun untuk mencari akar masalah, bukan sekadar pemberian sanksi fisik atau verbal yang menjatuhkan martabat siswa. Transformasi ini menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara guru dan murid, di mana rasa hormat tumbuh berdasarkan kasih sayang, bukan berdasarkan rasa takut.