Pelaksanaan program kakak asuh ini melibatkan pemilihan siswa kelas sembilan yang memiliki catatan akademik baik dan karakter yang terpuji. Para kakak asuh ini diberikan tanggung jawab untuk mendampingi satu atau dua adik kelas dalam menjalani masa transisi mereka. Tugas mereka bukan hanya sekadar memberikan arahan, tetapi menjadi teman diskusi, tempat bertanya mengenai kesulitan belajar, hingga pemberi motivasi saat adik kelas merasa lelah. Hubungan yang terbangun di Kendari ini didasarkan pada rasa saling menghormati dan kasih sayang layaknya saudara kandung.
Salah satu tujuan utama dari pendampingan ini adalah untuk bantu adik kelas agar lebih cepat beradaptasi dengan budaya sekolah yang disiplin. Kakak asuh memberikan tips-tips cara belajar yang efektif, cara mengatur waktu antara tugas dan ekstrakurikuler, hingga cara menghadapi tekanan ujian. Dengan adanya bimbingan dari senior yang sudah lebih dulu berpengalaman, siswa baru tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan di sekolah. Rasa aman dan nyaman ini sangat krusial agar konsentrasi siswa tetap terjaga pada tujuan utama mereka, yaitu menuntut ilmu.
Melalui interaksi yang intensif ini, diharapkan para siswa baru dapat lebih mudah untuk raih prestasi di berbagai bidang. Tidak sedikit siswa kelas tujuh yang memiliki potensi besar namun merasa malu atau ragu untuk tampil. Di sinilah peran kakak asuh untuk memberikan suntikan semangat dan mengarahkan mereka pada klub atau ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat mereka. Kesuksesan seorang adik kelas menjadi kebanggaan tersendiri bagi kakak asuhnya. Pola pembinaan seperti ini menciptakan rantai kebaikan yang akan terus berlanjut setiap tahunnya, di mana adik kelas yang sukses nantinya akan menjadi kakak asuh yang baik pula bagi generasi berikutnya.
Pihak SMPN 1 Kendari sangat memperhatikan pengawasan terhadap jalannya program ini agar tetap berada pada koridor yang positif. Guru bimbingan konseling secara rutin melakukan evaluasi untuk memastikan bahwa hubungan yang terjalin tetap profesional dan edukatif. Program ini juga terbukti efektif dalam meminimalkan konflik antarsiswa. Ketika senior dan junior saling mengenal secara personal dan memiliki hubungan emosional yang baik, gesekan atau kesalahpahaman yang biasanya memicu konflik dapat dihindari sedini mungkin. Budaya sekolah menjadi jauh lebih kondusif dan penuh dengan semangat gotong royong.