Masa remaja di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah periode yang penuh gejolak emosi dan perubahan sosial. Di tengah dinamika pertemanan dan pencarian jati diri, kemampuan untuk berempati dan berkomunikasi secara efektif menjadi sangat penting. Oleh karena itu, mengembangkan empati dan komunikasi yang baik bukan lagi sekadar keterampilan pelengkap, melainkan fondasi bagi siswa untuk membangun hubungan yang sehat dan menghindari konflik. Kemampuan ini menjadi bekal berharga yang akan membantu mereka tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di kehidupan sosial dan profesional di masa depan.
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan pada bulan Agustus 2025, kasus perundungan verbal dan perkelahian di kalangan siswa SMP masih sering terjadi, terutama yang dipicu oleh kesalahpahaman. Situasi ini menunjukkan urgensi bagi sekolah untuk menempatkan mengembangkan empati sebagai prioritas utama. Salah satu cara efektif yang diterapkan di beberapa sekolah, seperti di SMPN 3 Yogyakarta, adalah melalui program “Satu Jam Berbagi Rasa” setiap hari Jumat. Dalam sesi ini, siswa didorong untuk menceritakan perasaan atau pengalaman mereka, dan siswa lain diajarkan untuk menyimak tanpa menghakimi. Ini melatih mereka untuk memahami perspektif orang lain, sebuah inti dari empati.
Selain itu, mengembangkan empati juga dapat diintegrasikan dalam kurikulum akademis. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, guru bisa meminta siswa untuk menganalisis karakter dalam cerita dan merenungkan perasaan serta motivasi mereka. Di pelajaran PKN, diskusi tentang isu-isu sosial seperti kemiskinan atau disabilitas dapat membantu siswa melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Pendidikan Indonesia pada Mei 2025 menunjukkan bahwa siswa yang sering terlibat dalam diskusi semacam ini memiliki skor empati yang lebih tinggi daripada siswa yang tidak. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan empati bisa dilakukan secara terstruktur.
Komunikasi efektif, yang berjalan beriringan dengan empati, juga sangat penting. Kemampuan untuk menyampaikan pendapat dengan jelas, mendengarkan secara aktif, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan adalah keterampilan yang harus diasah. Pada hari Kamis, 18 September 2025, Kompol Bambang Setyawan dari Polresta Surakarta mengadakan penyuluhan di sejumlah sekolah tentang bahaya penyebaran hoaks dan pentingnya verifikasi informasi. Beliau menekankan bahwa komunikasi yang baik dimulai dari kebiasaan memeriksa fakta dan tidak terburu-buru menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.
Pada akhirnya, mengembangkan empati dan komunikasi efektif di jenjang SMP adalah sebuah investasi untuk masa depan yang lebih harmonis. Dengan membekali siswa dengan keterampilan ini, kita tidak hanya membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih peduli dan toleran.